Ada Aku di antara Tionghoa dan Indonesia

3,113 Dilihat
Gambar dapat memiliki Hak Cipta

Ada Aku diantara Tionghoa dan Indonesia

Pak. “Aku nggak keterima UMPTN” , laporku sedih kepada Gus Dur. Dengan santai beliau menjawab, Ya sudah kamu ikut lagi aja tahun depan. Sementara itu, kamu bisa kuliah ambil D1 atau D3.

Kuliah apa ? tanyaku melas. “Ambil Sastra Cina aja. Sebentar lagi Cina akan jadi kekuatan besar di dunia. Bagus kalau kamu punya keahlian berbahasa Cina, ujar beliau.”

Percakapan itu terjadi 22 tahun silam, yang membuat saya berkuliah Sastra Cina di Universitas Indonesia. Dan sekarang yang dikatakan bapak kala itu telah terbukti. Cina menjadi salah satu kekuatan besar di dunia. Sayangnya, munculnya Cina sebagai kekuatan besar dunia ini membuat banyak orang di Indonesia menjadi ketakutan dan paranoid. Mereka menciptakan narasi-narasi seakan-akan Cina akan melakukan invasi besar-besaran ke Indonesia yang mengancam kelangsungan hidup kita baik sebagai warga Negara Indonesia secara individual maupun sebagai bangsa dan Negara.

Semua ketakutan ini tidak lepas dari sejarah panjang politik identitas yang diberlakukan VOC untuk menjaga agar kaum Jawa dan keturunan Cina tidak bersatu dan tidak menyaingi perdagangan VOC, serta kemudian dilanjutkan oleh Orde Baru yang melakukan banyak pembatasan terhadap warga keturunan Cina. Selama masa Orde Baru, berbagai stigma dan purbasangka akan warga keturunan CIna  berkembang.

Mereka bilang orang Cina itu pelit. Ya, saya pernah bertemu orang Cina yang pelit. Dan juga dari orang suku dan ras lain.

Mereka bilang orang Cina itu tamak. Betul, saya juga pernah kenal orang Cina yang tamak. Begitupun orang suku dan ras lain yang tamak.

Mereka bilang orang Cina itu tukang peras. Saya pernah dengar ada orang Cina yang seperti itu. Tapi saya juga tahu ada orang dari suku dan ras lain yang juga seperti itu.

Mereka bilang orang Cina itu tidak suka berbaur. Memang ada orang Cina yang saya kenal yang tidak suka berbaur. Pun yang dari suku dan ras lain.

Mereka bilang orang Cina itu mata duitan, semuanya orang kaya. Beberapa dari yang saya kenal memang begitu. Tapi juga dari suku dan ras lain.

Dan saya juga pernah berjumpa dengan banyak orang Cina yang sangat penyayang dan murah hati. Mereka suka melakukan kerja sosial kepada kelompok masyarakat manapun yang kurang beruntung. Saya juga  punya sahabat-sahabat keturunan Cina yang sangat pendengar, sabar, murah hati, dan senang sekali berbagi apa pun yang mereka punya. Mereka juga orang-orang yang sangat menghormati orang lain, termasuk menghormati perbedaan antara mereka dengan orang lain, termasuk dengan saya.

Saya bahagia sekali mengenal banyak orang Cina. Sama bahagianya dengan mengenal banyak orang Jawa, Orang Padang, orang Manado, Orang Timor, Orang Sunda, Orang Madura, orang Bugis, dan orang-orang suku dan ras lain. Juga orang-orang dengan agama yang berbeda dengan saya. Karena perkenalan dengan banyak orang-orang yang berbeda ini mengajarkan saya satu hal : suku dan ras hanya menjelaskan dari masa asal seseorang, tetapi tidak menjelaskan apapun mengenai karakter orang tersebut. Agama hanya menjelaskan apa yang dia yakini, tetapi sama sekali tidak menjelaskan mengenai bagaimana dirinya sebagai manusia.

Dan satu-satunya cara untuk benar-benar tahu mengenai orang-orang dari suku, ras dan agama lain adalah dengan membuka diri terhadap mereka. Dan ketika kita melakukannya, kita akan menemukan bahwa dibalik semua identitas suku, ras dan agama, setiap orang sama dengan kita. Sama-sama menginginkan hidup dalam damai, sama-sama bias bekerja dalam rasa aman, sama-sama ingin memberikan yang terbaik untuk keluarga, sama-sama ingin menjadi bermanfaat untuk orang lain, sama-sama ingin disayangi dan menyayangi, sama-sama ingin menjadi bagian dari masyarakat, dan sama-sama ingin membawa perubahan positif dalam dunia.

Karena suku, ras dan agama bukanlah siapa mereka sesungguhnya. Karena siapa mereka sesungguhnya adalah sesama anak manusia. Begitu juga dengan mereka, orang-orang keturunan Tionghoa.

Februari 2018

Anita A Wahid

/Sebuah pengantar Buku Kumpulan Narasi Memori – Ada Aku di antara Tionghoa dan Indonesia – Pustaka Ananda SRVA – Yogyakarta – 2018