Bijak Mengelola Tanah

3,299 Dilihat
Gambar dapat memiliki Hak Cipta

Beberapa kasus yang akhir-akhir ini terjadi adalah konflik antara masyarakat dengan pihak pengembang yang akan membangun apartemen atau hotel. Setidaknya ada dua pemaknaan yang berbeda mengenai tanah. Bagi pihak masyarakat, tanah menjadi tempat dan sumber hidup manusia. Sementara bagi investor, tanah adalah wahana untuk mendulang keuntungan meskipun dengan cara yang akhirnya juga merusak tanah itu sendiri. Dalam hal ini tanah tidak berbeda dengan barang modal yang setara dengan mesin produksi.

Reduksi makna atas tanah inilah yang membuat manusia tidak lagi bisa menghargai tanah sebagai anugerah Tuhan, yang sampai hari ini pun, belum ada manusia yang bisa membuat tanah. Segala makhluk hidup tak bisa lepas dari peran tanah baik langsung maupun tidak langsung. Terlebih manusia, ia bisa dan hanya bisa hidup karena tanah. Semua yang dikonsumsinya terkait dengan tanah.

Mungkin karena perkembangan budayanya yang mulai meninggalkan dunia agraris, manusia menjadi makin berjarak setidaknya dalam hal pemaknaannya pada tanah atau alam. Padahal jelas, manusia sangat dekat dengan tanah dan alam karena makanan dan minuman yang dikonsumsi tiap hari tak bisa lepas dari tanah dan alam.

Menurut Y. Wartaya Winangun SJ dalam Tanah Sumber Nilai Hidup (2004:73-77), makna yang melekat pada tanah bagi manusia kurang lebih demikian.

Pertama, tanah merupakan sawah/ladang garapan. Tanah digarap untuk menghasilkan barang-barang kebutuhan hidup manusia. Bagi para petani, misalnya, tanah menjadi satu-satunya sumber hidup.

Kedua, tanah mempunyai makna ruang di mana manusia hidup dan berada. Tanah merupakan tempat di mana manusia hidup dan berkembang. Tempat untuk tinggal, merajut relasi dan cinta dengan sesamanya.

Ketiga, tanah mempunyai makna sebagai kawasan lingkungan hidup bagi manusia. Juga kalau kawasan itu tidak dimilikinya, kawasan lingkungan mempengaruhi dan menentukan gaya hidup orang.

Keempat, tanah sebagai mata rantai sejarah manusia. Tanah menjadi penghubung antara mereka yang masih hidup dengan mereka yang sudah meninggal, karena ada rasa keterikatan dengan leluhur mereka yang telah meninggal.

Dari hal itu jelas, bahwa tanah menduduki posisi penting dalam hidup manusia. Sekali lagi karena perkembangan budaya yang makin meninggalkan dunia agraris maka manusia menjadi makin berjarak dengan tanah dan alam.

Manusia saat ini sehari-harinya yang bukan berada di dunia agraris, selalu disibukkan dengan aneka piranti dalam pekerjaannya namun yang sama sekali tak menyentuh hal-hal yang bersifat agraris. Bergumul dengan mesin, alat tulis, mesin produksi, maupun dalam sektor niaga dan jasa semakin menguatkan manusia untuk makin berjarak dengan tanah.

Padahal kalau dimaknai secara sungguh ketika manusia makan dari hasil pertanian, ia sebenarnya sedang berada dalam rangkaian aktivitas agraria di bagian hilir. Sebagai orang yang tak mengolah tanah namun menikmati hasil tanah/bumi, ia menjadi mata rantai dunia agraris yang berada di ujung. Sementara di ujung satunya adalah para petani yang berjuang membanting tulang menyemai kehidupan dengan aktivitas agrarisnya.

Karena dinilai menghasilkan nilai mata uang yang kecil, dunia agraris dipandang sebelah mata jika dibanding dengan usaha lainnya. Bahkan nilai tanah yang hanya difungsikan untuk aktivitas agraria lebih murah jika dibandingkan dengan tanah yang dipakai untuk tempat usaha niaga, produksi ataupun properti. Maka, tanah yang semula untuk lahan pertanian tiba-tiba berharga mahal ketika akan dipakai sebagai tempat usaha tersebut. Padahal dengan beralihnya fungsi lahan tersebut, yang terjadi adalah adanya potensi kekurangan cadangan pangan karena makin sempitnya lahan pertanian dan perubahan tata guna lahan. Namun, yang menjadi keheranan penulis, mereka lebih suka menjual tanah pertaniannya supaya dipakai pihak tertentu untuk usaha niaga atau sejenisnya yang meraup nilai uang lebih banyak daripada untuk melestarikan aktivitas agraris. Padahal bisa jadi nilai uang itu tidak akan bisa menebus daya rusak perubahan lahan, maupun komoditas produk agraris di tempat tersebut. Apakah masih bisa dibanggakan jika orang mempunyai uang banyak namun tidak bisa membeli makanan karena memang sudah tidak ada atau sulit mendapatkan makanan tersebut lantaran lahan pertaniannya yang makin sempit? Bisa jadi, lahan pertanian yang sempit tak akan mampu mencukupi kebutuhan pangan penduduk yang makin bertambah banyak.

Wartaya Winangun SJ dalam buku yang sama halaman 76 merefleksikan hubungan manusia dengan tanah itu ibarat hubungan ibu dengan anak-anak. Sebagaimana seorang ibu menumbuhkan dan mengembangkan anak, demikian tanah menjadi sumber hidup manusia. Oleh karena itu, menurutnya, tanah bukanlah komoditi yang dapat diperjualbelikan secara sewenang-wenang. Memperlakukan tanah sebagai komoditi berarti memperlakukan ibunya sendiri sebagai komoditi.

Dalam arti itulah menjadi benar jika tanah atau bumi disebut sebagai ibu pertiwi. Sifat keibuan itulah yang ada pada tanah atau bumi yang selalu memberi hidup pada segala makhluk. Tak ada makhluk yang bebas dari rengkuhan daya kehidupan bumi.

Dengan demikian, tanah merupakan sumber kehidupan, terlebih pada tanah yang memang subur dan kaya akan unsur hara dan air. Itu akan menjadi sarana pertanian yang memadai dan menjadi sumber kehidupan makhluk hidup karena melimpahnya air. Namun sayangnya, manusia tak lagi bisa menghargai alam sebagaimana adanya. Misalnya kawasan yang sebenarnya kaya akan air diubah menjadi kawasan industri atau perumahan yang akhirnya akan merugikan manusia dan segenap makhluk yang sebelumnya bergantung pada habitat tersebut. Dan sayangnya itu semua hanya menjadi proyek investasi, bukan untuk kebutuhan tempat tinggal yang semestinya. Maka, tidak heran terjadi konflik di tempat-tempat tersebut, misalnya antara masyarakat dengan pihak investor atau pengembang. Bahkan hewan pun dengan caranya melakukan protes terhadap perubahan habitatnya.

Cara pandang tanah/bumi sebagai ibu yang memberikan kehidupan patut untuk terus dilestarikan karena memang pada kenyataannya demikian. Jangan sampai karena keuntungan ekonomi sesaat misalnya adanya pabrik atau perumahan, alam/tanah menjadi rusak. Air pun kering karena tidak bisa terserap dengan baik.

Melihat fenomena yang berkembang saat ini, manusia terlihat tidak semakin akrab dan ramah dengan lingkungan hidupnya. Entah lupa atau termakan iming-iming perolehan keuntungan ekonomi, manusia tak lagi mampu menyadari bahwa mereka bergantung pada tanah atau alam. Bisa juga, manusia sekarang mungkin menganggap kehidupan hanya menjadi miliknya saat ini, maka ia tak lagi berpikir akan hidup anak keturunannya, ia tidak lagi berpikir nasib alam ke depan.

Dalam hal inilah, kita dipanggil untuk berdamai dengan alam dan merajut tali persaudaraan yang sudah lama terputus oleh nafsu dan ambisi memperoleh pundi-pundi uang. Percayalah uang sebanyak apapun tak akan ada gunanya ketika air menetes untuk terakhir kalinya. Percayalah kekayaan sebesar apapun tak bisa berbuat banyak ketika alam rusak dan tak bisa lagi menyediakan pangan.

Bijaklah mengelola Tanah.

Penulis :

Lukas Awi Tristanto, pria kelahiran 23 Juni 1979 ini yang memiliki hobby membaca dan menulis, mendengarkan lagu khususnya dari KLA Project dan Katon Bagaskara, berprofesi sebagai seorang redaktur dari sebuah media komunikasi.

Sebagai penulis beberapa buku yang sudah diterbitkan oleh penerbit Kanisius, salah satunya adalah “Sketsa sketsa Ekokonspirasi -PANGGILAN MELESTARIKAN ALAM CIPTAAN”.

Penyunting : sv-jkmr