Katolik dan Pemuda Indonesia

4,022 Dilihat

Sejarah Pemuda Katolik tidak dapat dipisahkan dengan keberadaan Gereja Katolik, realitas sosial kemasyarakatan, situasi konkrit kaum muda dan perjalanan sejarah bangsa. Karena itu catatan sejarah Pemuda Katolik senantiasa bersentuhan bahkan berkaitan dengan sejarah pergerakan, perjuangan, perkembangan pemuda Indonesia, Pemuda Katolik merupakan organisasi kemasyarakatan pemuda yang dibentuk pada tanggal 15 November 1945 di Yogyakarta dengan Santo Pelindungnya Santo Yohanes Berchmans.

Organisasi kaum muda Katolik di Indonesia pada era pra-kemerdekaan masih berskala lokal Keuskupan / Daerah, namun sejak sekitar tahun 1920-an, kaum muda Katolik Indonesia telah berperan aktif dalam pergerakan pemuda Indonesia yang pada masa itu telah memiliki kesadaran nasional memperjuangkan adanya suatu negara bangsa Indonesia yang merdeka dan berdaulat.

Pada tahun 1908 terjadi dinamika dalam situasi sosial politik di Indonesia dimana pada tahun ini diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Masa ini ditandai dengan bangkitnya semangat persatuan, kesatuan, dan nasionalisme serta kesadaran memperjuangkan nasionalisme Republik Indonesia yang sebelumnya tidak ada selama penjajahan kolonial Belanda dan Jepang. Masa ini ditandai dengan dua peristiwa penting yaitu berdirinya Boedi Otomo 1908 dan Ikrar Sumpah Pemuda tahun 1928.

Sebelum kemerdekaan, organisasi kaum muda katolik yang pertama kali didirikan di Indonesia adalah Katholieke Jongelingen Bond (KJB) pada pertengahan November 1914 di Batavia. Organisasi ini diprakarsai oleh organisasi yang juga dari umat katolik yaitu Katholieke Sociale Bond (KSB) yang bergerak dibidang sosial dibawah naungan Pastor J. Van Rijckevorsel. KJB adalah organisasi bagi para remaja yang telah menyelesaikan sekolah lanjutan pertamanya hingga usia 20 (karena saat usia 21 tahun adalah usia minimum untuk masuk KSB). Dalam organisasi yang kebanyakan adalah remaja laki-laki (yang juga sebagian besar anggotanya berkebangsaan belanda) ini dimaksudkan pada saat itu untuk membina meraka dalam pelajaran katekismus yang tidak mereka dapatkan di sekolah. Disamping itu, KJB juga menyediakan sepeda bagi kaum muda yang bertempat tinggal jauh guna membantu kaum muda berkumpul, membentuk klub debat dan klub musik, sampai mempunyai majalah sendiri. Dan akhirnya diperkirakan pada tahun 1942 organisasi ini dilarang oleh pemerintah Jepang yang saat itu mulai menduduki indonesia.

Selain organisasi KJB yang ada di batavia, ada juga perkumpulan pelajar laki-laki dan perempuan yang ada di Muntilan pada tahun 1925 yaitu Pakempalan Paloepi Darma. Perkumpulan ini bertujuan untuk membantu penyebaran Kerajaan Allah di tanah Jawa dan membantu pemuda pribumi dalam menjalani pendidikan imamat demi munculnya imam pribumi, melalui doa dan pengumpulan dana.

Sehingga mereka terus mengajak orang-orang muda yang lain baik laki-laki dan perempuan untuk terlibat dalam usaha kecintaan terhadap Tanah Air melalui penyebaran iman katolik dan pendidikan imam pribumi.

Setelah KJB yang sebagian besar anggotanya adalah remaja yang berkebangsaan Belanda, maka anak-anak muda pribumi merasa kurang betah di KJB dan memutuskan untuk membentuk organisasi sendiri bagi anak-anak muda katolik pribumi. Sehingga organisasi ini dinamakan Moeda Katholiek pada tanggal 1 Agustus 1929 di Yogyakarta. Keanggotaannya mulai anak-anak Standaardschool (SD berbahasa jawa) sampai pemuda-pemudi yang sudah bekerja. Sedangkan yang wanita didirikan Moeda Wanita Katholiek. Hal ketidaknyamanan anak-anak pribumi di KJB dikarenakan perbedaan budaya anak-anak Belanda dan juga perbedaan mentalitas dari “anak-anak yang menjajah” dan “anak-anak yang dijajah”. Sehingga digambarkan bahwa anak-anak Belanda mendapatkan segala hak dan status yang mapan sedangkan anak-anak pribumi secara samar-samar disadarkan dari gerakan kebangkitan nasional yang mulai menghendaki persamaan hak, kemandirian, dan akhirnya kemerdekaan.

Organisasi ini tidak mematikan organisasi yang sudah ada seperti Paloepi Darma, karena keduanya mempunyai tujuan yang berbeda. Dalam Moeda Katholiek merupakan organisasi pemuda yang bersifat umum (non kegerejaan / keagamaan) dengan kegiatan seperti olah raga, seni, debat masalah sosial-politik atau kelompok studi dan sebagainya. Sedangkan Paloepi Darma memfokuskan pada gerakan anak-anak/pemuda-pemudi untuk membantu melalui doa dan bantuan dana bagi terbentuknya imam pribumi. Dan diperbolehkan untuk satu orang yang sama menjadi anggota dari keduanya. Sama seperti halnya KJB, organisasi Moeda Katholiek dan Moeda Wanita Katholiek berhenti melakukan kegiatan karena dilarang oleh pemerintahan jajahan jepang.

Pergerakan Politik umat Katolik di Indonesia diawali pada tahun 1922 dengan berdirinya Gerakan Kepanduan di sekolah Katolik (pembinaan anggota pandu selain keterampilan kepanduan juga disertai penguatan iman kristiani, kemandirian, ketaraan, dan cinta tanah air). Pada tahun ini, Pastor Van Lith, dialun-alun Mangkunegara pada suatu pagi menyaksikan “Padvider pribumi” (Pramuka) sedang latihan.

Pada saat itu, Pastor Van Lith merenungkan (dari catatan harian beliau) sebagai berikut: “Pada saat ini anak-anak pribumi tampak jina bagi pemerintah Hindia Belanda, akan tetapi besok bila mereka telah dewasa pasti akan datang saatnya mereka akan menjadi musuh Pemerintah Belanda. Dan jika hal ini terjadi, saya akan memihak bangsa Indonesia. Nasib bangsa Indonesia yang akan datang terletak pada pemuda-pemudanya. Demikian juga nasib Gereja di Indonesia ini, terletak pada pemuda-pemuda Katolik-nya.”

Bulan Agustus tahun 1923, sejumlah 30 guru bekas murid-murid Kweekschool (SGB) jaman penjajahan Belanda yang usianya 22-23 tahun mendidikan perkumpulan Katolik untuk aksi politik bagi orang-orang Jawa. Saat itu jumlah orang Katolik di Jawa sekitar 1.000 orang. Bulan Febuari tahun 1925 berdiri perkumpulan Politik Katolik Jawa. Pada tahun 1928 untuk pertama kalinya dilaksanakan Kongres Kaum Katolik di komplek Gereja Katedral Jakarta. Untuk memperingati Kongres pertama dibangun sebuah tugu pemuda di kompleks Gereja Katedral Jakarta.25 Tahun 1930 organisasi-organisasi politik umat Katolik bersatu menjadi “Persatuan Politik Katolik Indonesia” di seluruh Indonesia (Hindia Belanda) sebelum pecah, terdapat 41 cabang.

Organisasi kaum muda katolik setelah Kemerdekaan Indonesia

Tak lama kemudian sesudah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dikumandangkan, pada tahun itu juga didirikan sebuah organisasi kaum muda katolik bernama Angkatan Muda Katolik Republik Indonesia (AMKRI) yang dibentuk oleh Partai Politik Katolik Indonesia (PPKI) dalam kongresnya di Surakarta tanggal 8 Desember 1945. Pembentukan dari AMKRI ini memang antara lain untuk mewadahi golongan kaum muda katolik yang saat itu mau berjuang dan berkorban bersama golongan lain selama revolusi. Disamping itu, juga yang menjadi tujuan utama didirikannya AMKRI adalah untuk menjawab seruan Pemerintah Republik Indonesia yang kala itu mengajak agar masyarakat mendirikan organisasi sebagai sarana perjuangan dalam membangun Republik Indonesia.

AMKRI juga memperhatikan masalah dibidang pendidikan. Saat dicabutnya peraturan pemerintah balatentara Jepang yang melarang pihak swasta menyelenggarakan pendidikan di bulan Mei 1945, AMKRI mulai memprakarsai  pendirian Sekolah Menengah Atas (SMA) Katolik untuk sore hari di Yogyakarta yang sekarang ini menjadi SMA St. Thomas, Yogyakarta. Hal ini dimaksudkan untuk menampung lulusan Sekolah Menengah Katolik (SMK) dari Bintaran dan Dagen Yogyakarta yang diselenggarakan oleh Para suster Santo Carolus serta para suster Fransiskanes.

Tanggal 15 November 1945 lahir Angkatan Muda Katolik Republik Indonesia (AMKRI) ditengah ramainya perjuangan dan munculnya organisasi kepemudaan. Tanggal 7- 12 Desember 1949 dalam Kongres Umat katolik Seluruh Indonesia (KUKSI) lahir Muda Katolik Indonesia (MKI) Seterusnya pada Juni 1960 Muda Katolik Indonesia dalam kongres di Solo diubah menjadi Pemuda Katolik yang diusulkan oleh Munajat (yang pernah menjadi Delagasi RI ke Konferensi Meja Munda (KMB). Ketika tahun 1965, saat Partai Komunis Indonesia (PKI) merajalela, Pemuda Katolik mengubah politiknya bersama organisasi yang lain. Semua organisasi pemuda berbaju hitam, hanya gambar dibelakang yang membedakannya, salib, kepala banteng, dan lain-lain. Dalam masa itu Pemuda Katolik kesulitan membendung masa PKI. Pemuda Katolik tidak mempunyai banyak masa. Saat itu orang Katolik jumlahnya belum banyak. Timbul inisiatif untuk mendidik 50 orang anggota Pemuda Katolik secara basis Marhaen. Hasilnya memang mengejutkan, pemuda PNI berkembang pesat dengan terjunnya Marhaen Katolik. Namun sayang bahwa generasi muda Marhaen yang Katolik tidak sehebat dan sepaham dengan generasi muda pertama dan kedua.

Sejak proklamasi Kemerdekaan hingga tahun 1966 Partai Katolik selalu duduk dalam kabinet. Tahun 1948-1950 berlaku Kasimo Plan, yaitu rencana produksi pertanian selam tiga tahun yang dicetuskan oleh Bapak I. J. Kasimo yang saat itu menjadi Menteri Muda Kemakmuran. Tanggal 1-17 Desember 1949 diadakan KUKSI. Dalam KUKSI diputuskan untuk Partai Katolik, yaitu satu-satunya partai politik di Indonesia bagi umat Katolik.

Tanggal 21 Februari 1957, diumumkan adanya Konsepsi Presiden, yaitu ide mengenai Demokrasi Indonesia yang berdasarkan Gotong-royong. Berdasarkan ide tersebut, dibentuk Dewan Nasional dan Kabinet Kaki Empat (terdiri dari Masyumi, NU, PNI, dan PKI). Mengenai Konsepsi Presiden yang ditawarkan kepada partai-partai tersebut, NU, PSII, Parkindo, IPKI, PSI menyatakan pikir-pikir dulu, sedangkan Partai Katolik dan Masyumi dengan tegas menolak. Sejak saat itu, Partai Katolik dan Masyumi tidak pernah diikutsertakan dalam Pemerintahan (tidak ikut duduk dalam Kabinet/tidak ada umat Katolik yang menjadi Menteri). Tahun 1948 Ketua Umum Partai Katolik mengalami pergantian. Bapak I. J. Kasimo digantikan Bapak Frans Seda. Mulai saat itu Partai Katolik diikutsertakan dalam Pemerintahan lagi. Tanggal 30 September 1965 timbul pemberontakan PKI yang kedua, yang menyebabkan Orde Lama diganti dengan Orde Baru (ORBA). Bersamaan dengan itu timbul organisasi-organisasi yang bersifat pejuang politik temporer, yaitu : Front Pancasila, KAMI, KAPPI, dll..

Sejak saat itu pula umat Katolik membentuk Front Katolik Tanpa Lubang, yaitu semua umat Katolik termasuk umat Katolik yang berorientasi Nasionalisme dan masuk dalam organisasi-organisasi Marhaen (PNI, GMNI, PERWANAR, GSNI, dll) supaya bersatu melawan gerakan Komunis yang mengadakan pemberontakan.

Tanggal 5 sampai 8 Desember 1948 diadakan Kongres X di Yogyakarta, merupakan Kongres terakhir Partai Katolik, sebab setelah itu timbul pengelompokan sosial politik menjadi tiga, yaitu : Golongan Karya Pembangunan, Golongan Pembangunan Spiritual, dan Golongan Pembangunan Materiil. Kemudian, dengan adanya Undang-undang No.5 Tahun 1973, ketiga golongan tersebut menjadi GOLKAR, PPP, dan PDI. Secara resmi, Partai Katolik berfusi dalam Partai Demokrasi Indonesia bersama dengan PNI, Parkindo, IPKI, dan MURBA. Sejak saat itu kegiatan berpolitik bagi umat Katolik secara formal terdapat di dalam dua wadah, yaitu dalam PDI dan GOLKAR. Secara tidak langsung melalui kedinasan ABRI dan diangkat ke DPR (F-ABRI).

Di kediaman Bapak I.J. Kasimo, Jl. Sutan Syahril No.33 A Jakarta, tgl 28 Agustus 1928, dilaksanakan misa dengan iringan nyanyian Gregorian untuk mengenang ibadat perjuangan mendatang (bertepatan dengan pesta Santo Agustinus) yang dipimpin oleh Mgr. Darius Nggawa (Uskup Larantuka, Flores). Acara tersebut dihadiri oleh para pengurus Yayasan Kasimo DKI Jakarta dan sebagian anggota pendiri yayasan, diantaranya Bapak Frans Seda dan Bapak Wignyasumarsono.

Uskup dalam khotbahnya mengatakan : “Santo Agustinus hidup pada jaman peralihan setelah runtuhnya Kekaisaran Roma yang telah memberikan angin baik dalam perwartaan iman pada masa itu. Kiranya ada dua hal yang patut kita petik dari tulisan Agustinus, ialah optimisme dan yakin pasti ada jalan. Inilah dorongan yang memberikan kehidupan politik gereja pada masa itu, dan hasilnya seperti apa yang kita rasakan sekarang.”

Semangat yang melandasi pergerakan dan perjuangan Pemuda Katolik adalah Pro Ecclesia Et Patria, yakni membela Gereja dan Tanah Air. Nilai-nilai yang mendasari Pemuda Katolik dalam pergerakaannya senantiasa dijiwai oleh nilai-nilai kekristenan dan disemangati oleh nilai-nilai kebangsaan, sehingga Pemuda Katolik harus independen dan berorientasi pada pelbagai persoalan sosial kemasyarakatan serta terikat dalam satu persekutuan dengan Gereja sebagai umat Allah dalam aktualisasi iman, cinta kasih dan persaudaraan antar seluruh umat manusia.

Pemuda Katolik sebagai wadah berhimpun orang muda yang beragama Katolik, merupakan wadah pemersatu yang memiliki tugas dan tanggung jawab dalam pembangunan generasi muda sebagai penerus cita-cita dan masa depan gereja dan bangsa, sehingga Pemuda Katolik merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan lingkungan Gereja dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, sebagai bagian dari Pemuda Bangsa Indonesia.

Sejarah nama Pemuda Katolik:

1.   1928   Pemuda Katolik Jakarta aktif dalam kongres Pemuda Indonesia.

2.  1931   April pembentukan Pemuda Katolik di Tomohon,Sulawesi Utara.               

3.  1938   Persatuan Pemuda Katolik, Ikut dalam kongres Pemuda Indonesia III.

4.  1945   Tanggal 9-10 November Kongres Pemuda Katolik Indonesia I setelah proklamasi. Pemuda Katolik terpilih  se-bagai salah satu anggota DPP Badan Kongres  dan  anggota  Badan  Pekerja.  Dalam Kongres Pemuda Katolik tegas menolak bergabung dengan Pesindo. 15 November Angkatan Muda Katolik Republik Indonesia      (AMKRI) dideklarasikan.                

5.  1948   Wakil Pemuda Katolik (AMKRI) duduk sebagai anggota Presidium Kongres Pemuda Indonesia.

6.   1949   17 Agustus AMKRI aktf dalam Kongres Pemuda Indonesia. Organisasi-organisasi Kepemudaan (SOSMAS)  Katolik  bergabung  dalam  Muda  Katolik Indonesia (MKI).                

7.   1951-1965 Terintegrasi dengan perjuangan politik Partai Katolik.

8.   1960   MKI berubah nama menjadi Pemuda Katolik.

 

Dengan melihat sejarah pergerakan diatas, Pemuda Katolik yang sekarang menjadi sarana pembelajaran / organisasi kader. Berawal dari Angkatan Muda Katolik Republik Indonesia (AMKRI), yang dideklarasikan di Yogyakarta, 15 November 1945 sebagai Organisasi Kemasyarakan (Ormas), Oikos dan Habitus kader bangsa. Sesuai dengan konteks dan tuntutan zaman, Angkatan Muda Katolik Republik Indonesia di Solo berubah nama menjadi Pemuda Katolik. Sebagai Oikos dan Habitus kader bangsa, Pemuda Katolik berziarah terus bersama kompenen-komponen bangsa ini dalam pangkuan Ibu Pertiwi, Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Dalam rangka mengawal Ideologi Negara, Pancasila sebagai Dasar Negara, Pemuda Katolik senantiasa bersama-sama dengan semua pihak yang berkehendak baik mendukung dan melestarikan hari-hari depan Gereja dan Bangsa yang menciptakan kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi yang melupakan ungkapan realisasi Konsili Vatikan II Dokumen-Dokumen Misi yang dasarnya merupakan jawaban-jawaban atas situasi konkrit yang dihadapi Gereja dalam pelaksanaan praktis perutusannya.

Sumber :

Pemuda Katolik. 2009. Buku Kenangan Kongres Nasional XIV Pemuda Katolik. Manado. ; Michael Dua, Dkk.. 2008. Politik Katolik, Politik Kebaikan Bersama. Jakarta: Obor ; Konsili Vatikan II – Dekrit Misi Ad Gentes 21