PERINGATAN HARI TOLERANSI INTERNASIONAL

318 Dilihat

Hari Toleransi Internasional yang diperingati setiap tanggal 16 November, BASOLIA (Badan Sosial Lintas Agama) Kota Bogor memanfaatkan momen tersebut untuk menjalin kerjasama kegiatan dengan menggandeng mitra jaringan di Forbodas yang dianggap selama ini konsisten melakukan kegiatan-kegiatan yang selaras dan berkaitan dengan peringatan Hari Toleransi, yaitu GUSDURIan Bogor dan Forum Muda Lintas Agama (FORMULA) dimana koordinator FORMULA adalah RD Dyonisius Manoppo.

BASOLIA, FORMULA dan GUSDURIan merupakan bagian dari masyarakat sipil yang aktif membangun ruang-ruang perjumpaan dalam keberagaman di Kota Bogor dan memang ikut berperan dalam dinamika masyarakat sipil yang menjadi salah satu indikator kota toleran. Di Hari Toleransi tahun 2021 ini, jaringan pertemanan dan kerjasama yang dimiliki oleh organisasi tersebut akan digunakan untuk menghadirkan forum keberagaman yang akan diisi oleh sharing kelompok-kelompok yang selama ini kurang mendapatkan perhatian dan didengar aspirasinya serta seringkali juga mendapatkan penolakan dari warga masyarakat dalam berkegiatan keagamaan/keyakinan.

Berdasarkan hal tersebut diatas, Pemuda Katolik Komcab Kota Bogor turut diundang dan hadir offline dalam acara peringatan Hari Toleransi Internasional yang diselenggarakan di Sekolah Al-Ghazally Bogor secara hybrid (offline & online), yang diwakili oleh Ketua terpilih Eduardus Enggar Bawono, Sekretaris Demisioner Johanes Achmar serta Sdr Hendriyanto Simalango (anggota).

Sdr Enggar diberi kesempatan pertama untik menyampaikan sharing pengalaman dalam bertoleransi. “Sebagai Ketua Sie Kepemudaan Paroki St Ignatius Loyola Semplak, mengajak OMK Paroki tersebut untuk melakukan kegiatan buka bersama di pondok pesantren Ihyah Annadiyah Parung. Awalnya ada keragu-raguan dari OMK takut ditolak. Namun setelah dijalankan ternyata acara bukber tersebut sangat cair dan hangat serta akrab” ujar Enggar.

Dalam ceramah pembuka di acara Hari Toleransi semalam, K.H. Mustofa Abdullah bin nuh, mentor BASOLIA, menyampaikan pesan – pesan dan arti toleransi dalam kacamata Islam, “Toleransi itu sederhana, hanya didasarkan pada semangat Persaudaraan Universal. Semoga Bogor menjadi tempat yang baik bagi semua penyembah Tuhan”, ujarnya. “Mereka yang bukan saudaramu dalam iman, ialah saudaramu dalam kemanusiaan,” tambahnya. Lebih lanjut Abah Toto – demikian panggilan akrab beliau – menjelaskan berbagai bentuk persaudaraan yang ada dalam kehidupan dunia : persaudaraan sesama manusia, persaudaran sebangsa, persaudaraan sesama makhluk Allah, persaudaraan sesama makhluk Allah yang diberi tugas pengabdian (yaitu bangsa manusia dan bangsa jin). Tidak ada permusuhan antara mereka yang bersaudara itu tadi karena sesungguhnya cuma ada satu musuh manusia bahkan musuh sejati yaitu setan, sesuai ayat “Sungguh, setan ialah musuh yang nyata bagimu.” Abah Toto berpesan agar kita bersama hidup rukun dalam persaudaraan antar manusia sebangsa, khususnya sebagai warga Kota Bogor yang memiliki keistimewaan besar karena dibangun oleh para kekasih Allah.

Acara peringatan hari Toleransi tahun 2021 dihadiri oleh Ketua BASOLIA Bogor yaitu K.H. Zainal Abidin beserta beberapa pengurus lainnya, perwakilan dari Kesbangpol Kota Bogor, Direktur Metamorfosis, Ketua Yayasan Satu Keadilan, Koordinator FORMULA yaifu RD Dyonisius Manoppo, OKP-OKP di Kota Bogor, Penganut Aliran Kepercayaan Sunda Wiwitan, dll.

KH. Zainal Abidin yang merupakan inisiator acara ini, menjelaskan keberadaan Basolia sejak tahun 2007 dan makin menunjukkan kiprahnya dalam meningkatkan kerukunan beragama di Kota Bogor, yang tampak dari terus meningkatnya indeks toleransi Kota Bogor. “Orang intoleran jumlahnya sedikit tapi suaranya nyaring, sedangkan orang toleran itu jumlahnya banyak tapi diam,” ujarnya. Sebagai aksi nyata beliau menyarankan agar kita semua menjadi pelaku perdamaian, jangan ikut-ikutan dalam kegiatan intoleran, bahkan sebaliknya bisa ikut melakukan komunikasi persuasif kepada orang-orang di lingkungan terdekat agar tidak ikut serta dalam kegiatan semacam itu.

Gola, penganut Sunda Wiwitan, menceritakan kegiatan rutinnya merawat kelestarian alam melalui ruwatan gunung, sambil membentuk dan membina puluhan kelompok masyarakat adat budaya yang berkomitmen dalam pelestarian alam. Dari kegiatan ini, Kang Gola mengetahui persis fakta lapangan dari banyak kasus perselisihan antara masyarakat adat dengan perusahaan-perusahaan yang melakukan eksploitasi sumberdaya alam. Suatu kali kegiatannya dicurigai oleh tokoh agama lokal sebagai praktek yang menyimpang dan diintimidasi dengan ancaman pembakaran. Gola juga menceritakan dirinya yang baru saja mendapatkan KTP setelah berjuang lama, dan itu pun masih belum sesuai harapan penuhnya bahwa kolom agama diisi dengan strip saja. “Tapi biarlah, soal ini saya belajar ikhlas,” katanya.

Gus Roy Murtadho, dari Pesantren Misykat Al-Anwar yang juga aktif di Jaringan Gusdurian, memberikan tanggapan akhir yang menarik sekaligus lucu sehingga sering mengundang gelak tawa para hadirin. Mengawali tanggapan dengan pembacaan ayat Al-Quran Surat Al-Hujurat ayat 13 tentang penciptaan manusia berbeda-beda suku dan bangsa, Gus Roy menjelaskan bahwa ajaran Islam secara inheren penuh dengan nilai-nilai toleransi, bahwa konsep toleransi itu bukan sebuah nilai asing dari peradaban lain yang dimasukkan belakangan sebagai ajaran Islam. Meski begitu, Gus Roy harus mengutip Voltaire – seorang filsuf Perancis – untuk menjelaskan spirit toleransi bahwa “Saya tidak setuju dengan pendapat Anda, tapi saya akan berjuang sampai akhir hayat untuk mempertahankan hak Anda untuk menyatakan pendapat itu.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.